Covid Singapura “Menggila” Lagi, Perusahaan Kembali WFH

Warga yang memakai masker wajah melewati cakrawala kota selama wabah penyakit coronavirus (COVID-19), di Singapura. (REUTERS/EDGAR SU)

Singapura kembali mengalami gelombang kenaikan kasus infeksi Covid-19. Melihat situasi ini, beberapa perusahaan telah mengambil tindakan pencegahan tambahan seperti meminta karyawan untuk kembali bekerja dari rumah (work from home/WFH).

Salah satunya perusahaan hubungan masyarakat Tate Anzur, yang memutuskan untuk menerapkan “pengaturan ulang kesehatan” minggu lalu guna memutus rantai infeksi. Kebijakan ini diambil setelah adanya peningkatan jumlah karyawan yang jatuh sakit.

Selama sebulan terakhir, hampir separuh karyawannya, sebanyak 21 dari total 50 orang mengambil cuti medis. Empat karyawan di antaranya dinyatakan positif Covid-19.

Untuk meminimalkan waktu transit dan di kantor, perusahaan mendorong anggota staf untuk bekerja dari rumah hingga akhir April. Ini dianggap lebih efektif dibanding kembali ke kantor dua hari seminggu.

“Kami berharap dengan perusahaan dan seluruh karyawan melakukan bagian kami, kami dapat memiliki tim yang sehat dan bersemangat untuk melakukan yang terbaik di tempat kerja terlepas dari meningkatnya jumlah kasus yang kita lihat saat ini,” kata pendiri perusahaan dan direktur pelaksana Yvonne Li, mengutip¬†Channel News Asia (CNA).

Meski demikian, ada pula perusahaan yang tidak memperketat tindakan mereka. Minor Group, yang mengoperasikan 16 merek F&B termasuk Thai Express dan Poulet, mengatakan belum menerapkan tindakan pencegahan tambahan sejak Singapura menurunkan peringatan penyakitnya ke level terendah pada Februari.

Ketua dan CEO grup Dellen Soh menyebut karyawan juga tidak diharuskan memberi tahu perusahaan jika mereka mengidap Covid-19.

“Kami biasanya mengambil petunjuk dari pemerintah tentang tindakan apa yang harus diterapkan, pembatasan yang diberlakukan, atau hal-hal yang perlu kami lakukan,” kata Soh.

“Protokolnya sekarang, Covid-19 tidak perlu dilaporkan lagi, itu seperti flu biasa.”

Soh juga mengatakan perusahaan belum melihat lonjakan jumlah karyawan yang mengambil cuti sakit. Dia mencatat bahwa orang mungkin merasa lebih protektif atas pekerjaan mereka, yang bisa berarti enggan mengambil cuti sakit, mengingat situasi ekonomi saat ini dan laporan penghematan di berbagai sektor.

“Banyak orang cenderung lebih serius mempertahankan pekerjaannya karena masa depan dalam satu atau dua tahun ke depan tidak akan cerah, jadi sangat tidak pasti,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Ong Ye Kung mengatakan pada 14 April bahwa Singapura telah berada di tengah gelombang Covid-19 selama sebulan terakhir, di mana infeksi harian meningkat dari sekitar 1.400 pada Maret menjadi sekitar 4.000 kasus sehari pada minggu sebelumnya. Namun dia mencatat bahwa jumlah kasus telah stabil atau bahkan turun.

Menurut situs web Kementerian Kesehatan (MOH) pada Senin (17/4/2023), ada 16.018 kasus yang tercatat dalam sepekan antara 2 dan 8 April. Jumlah ini lebih sedikit dari angka minggu sebelumnya yaitu 28.410 kasus

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*