Debut IPO, MBMA Emiten Nikel Terbesar RI Lewati Vale & Harita

Limbah Tambang menjadi material Bermanfaat. (CNBC Indonesia/Suhendra)

Saham emiten nikel PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melonjak dua digit saat debut perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Selasa (18/4/2023). Usai listing MBMA menjadi emiten nikel dengan kapitalisasi pasar (market cap) terjumbo.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.37 WIB, MBMA melonjak 13,21% ke Rp900/saham. Nilai transaksi mencapai Rp539,39 miliar dan volume perdagangan 619,26 juta saham.

Market cap anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tersebut mencapai Rp97,20 triliun, langsung di peringkat pertama emiten nikel terjumbo, menggeser posisi emiten milik Grup Harita PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dengan market cap Rp92,12 triliun.

Informasi saja, NCKL melantai di bursa pada 12 April 2023 dengan raupan dana nyaris Rp10 triliun.

Praktis, dua nama anyar di sektor nikel tersebut langsung ‘menendang’ para pemain lama, seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang punya market cap Rp64,34 triliun dan BUMN PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp50,70 triliun.

Selain itu, market cap MBMBA langsung menyodok ke urutan 16 market cap terbesar di bursa, satu peringkat di bawah sang induk MDKA yang memiliki market cap Rp98,61 triliun.

Sebagai informasi, MBMA menentukan harga pelaksanaan IPO sebesar Rp 795 per saham.

MBMA menawarkan sebanyak 11,5 miliar saham baru yang dikeluarkan dari portepel perusahaan atau 10,24% dari total saham perusahaan. Dengan demikian MBMA meraup sekitar Rp 9,2 triliun dengan nilai kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 85,9 triliun.

Emiten produsen bahan baku baterai ini berencana menggunakan dana hasil IPO antara lain untuk membiayai pembangunan dan pengembangan sejumlah proyek pemrosesan nikel seperti fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) I tahap I dengan kapasitas 60.000 ton per tahun untuk menghasilkan material dalam rantai nilai bahan baku baterai kendaraan bermotor listrik.

Sebagian lainnya akan digunakan untuk memperkuat modal kerja anak usaha, diantaranya PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang merupakan perusahaan tambang nikel dengan salah satu sumber daya terbesar di dunia dalam hal kandungan nikel. Saat ini SCM memiliki sumber daya lebih dari 1,1 miliar bijih dry metric tonne yang mengandung 13,8 juta ton nikel dengan kadar 1,22% Ni dan 1,0 juta ton kobalt pada kadar 0,08% Co. Kapasitas produksi tambang SCM diperkirakan akan mencapai 14,6 juta wet metric tonnes pada 2024. MBMA juga akan memakai dana IPO untuk melunasi pinjaman

David Agus, Direktur PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk selaku salah satu Penjamin Emisi, mengatakan sebagian besar saham MBMA dialokasikan kepada investor institusi. Namun, antusiasme investor ritel dalam IPO ini yang mencapai lebih dari 33.000 pemesan sangat menggembirakan bagi industri pasar modal dan energi terbarukan di Indonesia. Besarnya minat investor untuk terlibat dalam IPO MBMA ini sudah terlihat sejak penawaran awal.

“Besarnya penawaran saham yang masuk menandakan bahwa investor juga sangat optimistis dengan prospek bisnis hilirisasi tambang nikel dan pengembangan rantai nilai bahan baku Electric Vehicle (EV) battery atau baterai kendaraan bermotor listrik yang dikembangkan oleh MBMA. IPO MBMA ini sejalan dengan momentum global yang mendorong lebih banyak penggunaan energi bersih, termasuk penggunaan EV battery,” kata David.

Sebagai informasi, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir memegang secara langsung 11,14% saham MBMA dan 7,35% di MDKA.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*