WHO: Rumah Sakit di Gaza Utara Tak ada Lagi yang Berfungsi

WHO: Rumah Sakit di Gaza Utara Tak ada Lagi yang Berfungsi

Peralatan medis tersebar di luar Rumah Sakit Indonesia di pinggir kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, setelah pasukan Israel dilaporkan menggerebek fasilitas medis tersebut, pada 24 November 2023. Israel tidak segera mengomentari operasi apa pun di fasilitas tersebut, yang mana telah menjadi tempat aktivitas militer selama berhari-hari, namun berulang kali mengklaim bahwa rumah sakit telah digunakan oleh Hamas untuk menyembunyikan fasilitas komando dan kontrol bawah tanah. (MOHAMMAD AHMAD/AFP via Getty Images)Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Kamis (21/12/2023) bahwa Gaza utara tidak lagi memiliki rumah sakit yang berfungsi karena kurangnya bahan bakar, staf dan persediaan.

Menurut WHO, hanya sembilan https://138kas.info/ dari 36 fasilitas kesehatan yang berfungsi sebagian di seluruh Gaza. Adapun semua fasilitas Rumah Sakit yang berfungsi terkonsentrasi di daerah kantong selatan. “Sebenarnya tidak ada rumah sakit yang berfungsi di bagian utara,” kata Richard Peeperkorn, perwakilan WHO di Gaza, mengutip aawsat, Kamis (21/12/2023).

“Al-Ahli (Rumah Sakit) adalah yang terakhir, namun kini hanya berfungsi secara minimal: masih merawat pasien tetapi tidak menerima pasien baru,” terang dia menggambarkan situasi┬áRumah Sakit tersebut.

Peeperkorn mengatakan Al-Ahli menyerupai rumah perawatan yang menyediakan perawatan yang sangat terbatas. Sekitar 10 staf, semua dokter dan perawat junior, terus memberikan pertolongan pertama, manajemen nyeri dan perawatan luka dengan sumber daya yang terbatas, katanya.

“Hingga dua hari yang lalu, ini adalah satu-satunya rumah sakit di mana orang-orang yang terluka bisa mendapatkan operasi di Gaza utara dan rumah sakit ini kewalahan dengan pasien yang membutuhkan perawatan darurat,” katanya.

“Tidak ada ruang operasi lagi karena kurangnya bahan bakar, listrik, pasokan medis dan petugas kesehatan, termasuk ahli bedah dan spesialis lainnya.”

Adapun jenazah para korban dari serangan Israel baru-baru ini bertebaran di halaman rumah sakit karena tidak dapat diberikan pemakaman yang aman dan bermartabat.

Selain Rumah Sakit Al-Ahli, Gaza utara hanya memiliki tiga fasilitas kesehatan yang berfungsi secara minimal: Rumah sakit Al-Shifa, Al Awda dan Al Sahaba, yang menurut Peeperkorn telah menampung ribuan pengungsi.

Beberapa pasien di Al-Ahli telah menunggu untuk dioperasi selama berminggu-minggu atau jika mereka telah dioperasi, mereka menghadapi risiko infeksi pasca operasi karena kurangnya antibiotik dan obat-obatan lainnya, tambahnya.

“Semua pasien ini tidak dapat bergerak dan perlu segera dipindahkan agar memiliki kesempatan untuk bertahan hidup,” katanya, mengulangi seruan WHO untuk melakukan gencatan senjata kemanusiaan.

“Hal ini diperlukan sekarang untuk memperkuat dan mengisi kembali fasilitas kesehatan yang tersisa, memberikan layanan medis yang dibutuhkan oleh ribuan orang yang terluka dan mereka yang membutuhkan perawatan penting lainnya, dan yang terpenting adalah menghentikan pertumpahan darah dan kematian.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*