Mesin Ekonominya Mulai Panas, PDB China Melesat 4,5%

Foto yang diambil pada 25 Maret 2023 menunjukkan Paviliun Jixian (kiri) dan Paviliun Jixian (kanan) sebelum lampu dimatikan di tempat pemandangan Danau Barat di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok. (Future Publishing via Getty Images)

Ekonomi China  melesat pada kuartal I-2023 melebihi ekspektasi pasar.  Ekonomi Tiongkok tumbuh 4,5% (year on year/yoy) pada tiga bulan pertama tahun ini.

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar yang berada di angka 4% dan di atas kuartal IV-2023 yang tercatat 2,9% (yoy).

Secara kuartal, ekonomi China tumbuh 2,2% pada Januari-Maret 2023, jauh lebih tinggi dibandingkan 0,6% pada kuartal sebelumnya

Ekonomi Tiongkok melesat setelah pelonggaran kebijakan Covid-19. Pelonggaran COVID-19 memicu rebound yang tajam dalam aktivitas dan pengeluaran bisnis, dengan permintaan meningkat sehingga menguntungkan industri jasa.

Pemulihan tersebut juga dibantu oleh sejumlah langkah stimulus Pemerintah China untuk mengangkat ekonomi dari kemerosotan yang didorong oleh pandemi.

Sektor properti, yang menyumbang seperempat ekonomi China, bergulat dengan krisis cash flow yang berkepanjangan karena peraturan ketat tentang penggalangan dana.

Tetapi pemulihan sejauh ini sebagian besar masih tidak merata. Permintaan terhadap sektor jasa dan belanja infrastruktur telah pulih dari level terendah era pandemi.

inflasi yang lesu dan impor yang menyusut menunjukkan bahwa permintaan tetap lemah.

Manufaktur China juga masih berjuang untuk pulih dari masalah Covid dan mendapat tekanan karena lesunya permintaan luar negeri untuk barang-barang China.

Data ekonomi lainnya yang dirilis pada hari, Selasa (18/4/2023) juga menunjukkan perbaikan. Produksi industri China melesat 3,9% (yoy) pada Maret 2023, dibandingkan 2,4% (yoy) pada Januari-Februari.

Tetapi penjualan ritel melampaui ekspektasi. Penjualan ritel China melesat 10,6% (yoy) pada Maret tahun ini, dari 3,5% pada bulan sebelumnya.

Pertumbuhan juga di atas ekspektasi yakkni 7,4%. Hal ini menunjukkan bahwa belanja konsumen terus meningkat setelah tiga tahun terdampak Covid-19

Tingkat pengangguran China juga turun lebih dari yang diharapkan menjadi 5,3% pada Maret. Pemerintah China telah berjanji untuk meningkatkan dukungan untuk ekonomi senilai $18 triliun tahun ini untuk membatasi pengangguran.

Namun, mereka harus menghadapi tantangan untuk bermanuver di tengah kekhawatiran atas risiko utang dan kesengsaraan struktural. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun lalu merosot ke salah satu yang terburuk dalam hampir setengah abad karena pembatasan Covid-19.

Terlepas dari tanda-tanda pemulihan yang tidak merata, hasil PDB hari Selasa ini masih menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi China berada di jalurnya tahun ini, meskipun target PDB tahunan 5% pemerintah dipandang agak konservatif.

Bank sentral China juga mengatakan akan mempertahankan likuiditas yang cukup, menstabilkan pertumbuhan dan lapangan kerja dan fokus pada peningkatan permintaan.

Pada hari Senin (17/4/2023), bank sentral memberikan dukungan likuiditas kepada bank melalui fasilitas pinjaman jangka menengahnya namun untuk mempertahankan suku bunga pinjaman tersebut tidak berubah, sebuah indikasi otoritas tidak terlalu khawatir tentang prospek pertumbuhan yang cepat.

Dampak Melesetanya Ekonomi China ke Indonesia

Tanda-tanda pemulihan China menjadi pertanda baik bagi ekonomi Asia  yang bergantung pada negara tersebut sebagai tujuan perdagangan. Pasar komoditas juga mendapat dukungan dari hasil PDB yang kuat.

China merupakan perekonomian terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS).  Tiongkok juga merupakan mesin pertumbuhan utama di Asia karena besarnya peran mereka dalam menyerap ekspor negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

“China menyerap seperempat ekspor Asia. Reopening China dan pertumbuhan ekonomi China akan memicu dampak positif ke kawasan tersebut. Dampak lebih besar akan dirasakan oleh negara yang memiliki hubungan ekspor dan industri wisata dengan China,” tulis Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook terbarunya, A Rocky Recory.

Bagi China, Indonesia adalah pemasok terbesar batu bara. Tiongkok juga menyerap ekspor nikel dan bijih nikel serta minyak sawit mentah dalam jumlah besar dari Indonesia.

Bagi Indonesia, China adalah mitra dagang terbesar serta pasar ekspor terbesar di dunia. Tiongkok juga menjadi tiga besar investor asing di Indonesia.

Total perdagangan China dan Indonesia menembus US$ 133,65 miliar, naik 17,70% dibandingkan 2022. Ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai US$ 67,72 miliar pada 2022 atau melonjak 27,5% dibandingkan 2021.

China juga menjadi sebagai investor asing terbesar pada kuartal IV-2022.Tiongkok menggeser Singapura yang selama bertahun-tahun menjadi investor terbesar dalam satu kuartal.

Secara keseluruhan tahun 2022, investasi China di Indonesia pada 2022 menembus US4 8,2 miliar pada 2022naik 156% dibandingkan pada 2021. Tiongkok hanya kalah dari Singapura.

Wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia juga terbanyak dari China. Tren tersebut memang terhenti pada 2020-2022 karena Tiongkok menutup perbatasan.

Namun, IMF juga memberi peringatan keras terhadap negara lain yang bergantung ke China.

“Dengan besarnya ekspor negara lain yang diserap China maka pemulihan ekonomi China yang lebih lambat dari proyeksi akan berdampak signifikan,” imbuh IMF.

Menurut IMF, ekonomi China masih dibayangi sejumlah risiko termasuk dari pasar real estate mereka setelah digoyang skandal Evergrande.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*